Rabu, 27 April 2011

Survive Style 5+ (2004)


Entah bagaimana film ini bisa tiba-tiba muncul di kehidupan saya. Yah, film ini terus direkomendasikan oleh 3 teman yang berbeda dari 2 geng yang berbeda. Dan siapa yang menyangka ternyata dia pun adalah orang yang bermain andil di balik video-video Supercar! (salah satu yang paling obvious adalah White Surf Style No.5, iya judulnya pun pakai angka '5').


Sekilas film garapan Gen Sekiguchi ini langsung mengingatkan saya pada film-filmnya Guy Ritchie. Ibaratnya kalau Guy Ritchie memasukkan The Specials dan Ocean Colour Scene pada list scoringnya, Sekiguchi memasukkan James Shimoji dicampur dengan unsur-unsur warna berbau shibuya-kei-ism ke dalam filmnya ini. Atau mungkin kesimpulan di atas langsung saya ambil simply dan impulsively, karena ada orang ini.



Jangan terkecoh, pada dasarnya Survive Style 5+ adalah sebuah film drama. Dan seperti tidak sedikit kecenderungan film drama lainnya, Survive Style 5+ juga bercerita tentang (di sini berjumlah) lima tokoh yang berbeda dengan lima plot masing-masing yang (seperti biasa) pada akhirnya saling bersilangan dan bertemu.



Siapa sajakah mereka? *jeng, jeng*
Kita akan menemui sepasang suami istri yang bermasalah dengan argumen secara fisik,

 

sekelompok remaja yang memiliki pengertian dan definisi 'puber' yang salah,


sebuah keluarga yang berkaraoke pada lagu yang salah,


seorang confucianist wannabe dengan translator yang teriyaki boyz-ish,



dan seorang wanita yang kurang lebih memiliki masalah yang sama dengan saya: memiliki selera humor yang kurang bisa diterima masyarakat.


Dan yes, seperti yang saya sebutkan di atas, garis besar film ini pun tidak jauh berbeda dengan film drama kebanyakan: bahwa tiap individu itu saling berhubungan, dan selalu ada moral dari pahitnya hidup, seaneh apa pun kamu sebagai seorang makhluk hidup.


Tidak banyak yang bisa saya ceritakan karena dapat berakhir dengan spoiler! Tapi percayalah pada selera Gen Sekiguchi yang setelah berhasil menggeserkan genre drama filmnya menjadi fantasy pun, masih berhasil memberikan ending yang manis (ralat: MANIS), bahkan untuk film yang pada akhirnya tidak punya banyak moral untuk bisa ditarik namun dengan scene-scene yang artistik.



Maafkan saya yang mudah lemah pada ending (apalagi yang tiba-tiba) manis.
8.3 out of 10 ♥

Tidak ada komentar:

Posting Komentar