Kamis, 17 Januari 2019

Gerald's Game (2017)

Kembali lagi dalam episode Random Netflix Horrors sebelum tidur. Akhir-akhir ini karena sering main game-game lama via emulator di leptop dan memori penuh, hasrat mengunduh secara ilegal pun berkurang. Karena banyak beberapa judul horor di Netflix yang tidak ada di Indonesia, akhirnya judul Gerald's Game pun dipilih.


Konsep cerita dari Gerald's Game ini sebenarnya sederhana: a love trip gone wrong. Dari poster atau trailernya sudah kebayang pasti ya, apa yang terjadi. Ceritanya sendiri disadur dari salah satu karya Stephen King.


Di awal film ini sempat berasumsi film ini akan seperti Buried (2010) atau Wrecked (2010), alias film-film psychological triller dengan tema survival yang hanya memperlihatkan satu aktor, tapi ternyata tidak. Jesse diperankan oleh Carla Gugino, yang entah kenapa tiap nonton horor di Netflix dia selalu jadi wanita naas. Sebagai korban dan heroine dalam film ini, Jesse kerap mengalami kejadian-kejadian schizophrenic yang membuatnya berpikir, Apakah ini nyata, atau tidak? Entah karena breakdown yang dialami saat insiden atau karena dia sendiri juga memiliki ketidak-stabilan psikis, sepanjang film pun kita akan disuguhkan kejadian-kejadian yang membuat kita memilah, mana yang hanya di pikiran Jesse, mana yang a real threat.


Track record Mike Flanagan sebagai sutradara memperlihatkan bagaimana dia memang menikmati penderitaan wanita sebagai spotlight di film-film horornya. Jadi bersiaplah untuk melihat ekspresi male gaze-nya yang dieksekusi dengan baik oleh Gugoni.


Satu jam pertama saya akui cukup membosankan (menonton aksi Jesse yang memiliki sleep disorder membuat saya jadi ingin ketiduran juga), sampai akhirnya masuk ke 30-40 menit terakhir, di mana Jessie akhirnya mengambil sebuah langkah nekat. Lumayan ngilu waktu sudah masuk sini.


Di luar ekspektasi (terutama dari sebuah karya Stephen King), Gerald's Game berakhir menjadi sebuah film dengan banyak moral. Kisah ini menjadi sebuah kisah inspiratif yang cocok diterbitkan untuk para pembaca majalah Femina atau Kartini, terutama ketika diungkapkan bahwa setiap wanita pasti pernah mengalami 'penjara-penjara' simbolis.


Jadi, moral dari film ini terutama bagi para perempuan adalah: (1) Kenali dulu calon pasanganmu sebelum menikah, (2) Selalu speak up kalau kamu mengalami pelecehan seksual, (3) Jangan pernah lupa tutup pintu. 6 dari 10.

Ps. The guy who played The Moonlight Man is the same guy who played Frankenstein in The Addams Family! Kangen deh.

Minggu, 13 Januari 2019

Creepy (2016)

Sebagai seorang fan, entah kenapa dua film terakhir Kiyoshi Kurosawa yang saya tonton (termasuk film ini) selalu memberikan efek yang kurang memuaskan.


Diadaptasi dari sebuah novel karangan Yutaka MaekawaCreepy menceritakan mengenai kisah aneh yang dialami oleh sepasang suami-istri di rumah baru mereka. Kejadian-kejadian mencurigakan tapi yang berakhir dengan 'Ah kamu mah suudzon aja' ala ibu-ibu kerap terjadi setelah mengenal tetangga baru mereka, Nishino.


Koichi Takakura, sang suami yang juga mantan detektif, merasa keanehan tetangganya mempunyai korelasi dengan kasus yang tengah ditelitinya; hilangnya satu keluarga dengan tiba-tiba dari rumah mereka. Seiring tenggelamnya Koichi dalam kasus yang ditelitinya, dia pun tidak menyadari bahwa dia dan istrinya telah menjadi calon korban berikutnya dari kasus yang sama.


Semakin Creepy menceritakan akan bagaimana Nishino mendekati dan memanipulasi tetangga barunya, semakin sosoknya mengingatkan saya akan The Cable Guy dan Funny Games. Jenis 'gangguan' yang saking tampak 'biasa saja' dan smooth-nya, rasa-rasanya bisa terjadi pada siapa saja. Karakter Nishino sendiri, menurut Kurosawa, terinspirasi oleh sebuah mitos di Jepang akan roh halus yang bergentayangan di antara hutan dan perumahan. Sayangnya perkembangan konsep 'tetangga yang mengganggu' di Creepy semakin lama seperti kurang logis, ditambah karena (entah kenapa, ya) semua tokoh perempuan yang ada di film ini tampak dungu dan unreliable, rasanya film ini berakhir menjadi lebih ke annoying ketimbang disturbing.


Untuk soal environment, Kurosawa memang patut diacungi jempol. Dalam sebuah interview, Kurosawa menjelaskan bahwa dalam membangun environment di Creepy, unsur yang paling dia tonjolkan adalah angin. Tidak diragukan lagi, untuk soal slow burn horror memang Kurosawa ahlinya. Tapi sayang, visual Creepy yang One Perfect Shot-able tidak bisa menghentikan gagalnya storyline Creepy  untuk memberikan after effect kengerian pada saya, seorang ibu rumah tangga yang juga baru pindah rumah.


Kurosawa-sensei, maaf, memang katanya makin sayang itu makin mudah dikecewakan. Saya sayang kamu tapi sumimasen, Creepy is a 7.1/10 for me.

Sabtu, 12 Januari 2019

The Ritual (2017)

Memutuskan untuk menulis lagi karena akhir-akhir ini suka lupa setahun ini sudah menonton apa saja (walau mungkin sudah tidak ada yang baca, tidak apa). Lama juga ya jedanya 2 tahun.

Kali ini saya akan membahas The Ritual (2017) yang baru hangat saya tonton kemarin malam.


Film ini saya pilih secara random karena butuh teman untuk makan bakso Malang yang lewat depan rumah malam-malam. Spontan saya pilih karena merasa sering melihat judul film ini di list-list semacam 'Best Horror Movies to Watch on Netflix'.


Ceritanya sendiri mengingatkan saya akan The Descent (2005), sekelompok sahabat (4 pria tepatnya) memutuskan untuk melakukan sebuah adventurous trip yang, bukannya berakhir refreshing, tapi  berujung stressing dan depressing. Luke, Phil, Hutch dan Dom memutuskan untuk naik gunung di Sweden demi memperingati hari kematian salah satu dari sahabat mereka. Karena kaki Dom terkilir, mereka pun memutuskan untuk mengambil jalan pintas melewati sebuah hutan, di mana akhirnya teror mereka dimulai.


Kalau faktor paling menarik dari The Descent adalah konflik dari tiap karakter perempuan di dalamnya, dalam The Ritual - walau mereka mencoba menghadirkan hal yang sama - faktor tersebut kalah dominan dari rasa takut mereka terhadap sosok mistis yang mereka temui di dalam hutan. Dibandingkan The Descent yang berisi perempuan-perempuan emosional di bawah dendam personal (are they all Scorpios??), konflik antara keempat pria di The Ritual tampak singkat dan padat.


Konsep cerita The Ritual sendiri banyak terinspirasi oleh mitologi Norse, jadi siap-siap melihat banyak objek-objek yang metal-band-cover-album-ish.


Sempat berpikir, 'Apakah film ini akan berakhir seperti Evil Dead atau Cabin Fever?' ketika di pertengahan awal film mereka memutuskan untuk beristirahat di salah satu rumah kecil di tengah hutan, tapi ternyata asumsi saya dimentahkan. Nuansa syahdu namun mencekam yang dibangun di dalam hutan membuat saya cukup berharap film ini bisa difilmkan dengan format mockumentary.


The Ritual mampu menghadirkan environment yang thrilling (selalu suka dengan gesekan biola sebagai musik latar yang minimalis), dengan sinematografi yang membuat saya terus menikmati teror mereka di dalam hutan.


Poin plus juga untuk desain monster-nya yang menurut saya, sangat RPG-ish, (somehow bentuknya juga mengingatkan saya akan Jenova di Final Fantasy VII atau beberapa bos di Parasite Eve) dan juga untuk akting Rafe Spall sebagai Luke, terutama di scene terakhir yang cukup emosional.



Dengan ini The Ritual saya anugerahkan *drum roll* 8/10. Dengan gore level gore 1.5/5, mangga kalau mau ditonton bersama anak-anak.